PENGENALAN SEKILAS PEMBELAJARAN JARAK JAUH (DISTANCE LEARNING) DI TENGAH PANDEMI COVID 19

distance learning

Oleh: Ahmad Lizamuddin *)

“Menuntut Ilmu merupakan kewajiban bagi setiap muslim” (H.R. Ibnu Majah)

Sebagaimana yang sudah termaktub dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu majah, sudah semestinya kewajiban untuk belajar tetap dilaksnakan dalam situasi apapun termasuk dalam keadaan krisis seperti sekarang ini. Situasi genting yang terjadi karena pandemi Covid 19 saat ini, memaksa institusi pendidikan untuk memutar otak supaya tetap bisa melaksankan kewajibannya yakni memfasilitasi aktifitas pembelajaran.

Pada era teknologi mengalami perkembangan begitu pesat, pemanfaatannya dimaksimalkan pada semua aspek kehidupan termasuk aspek pendidikan. Tidak asing lagi jika kolaborasi pemanfaatan kemajuan teknologi dalam dunia pendidikan khususnya pada pelaksanaan pembelajaran melahirkan banyak inovasi kreatif untuk mencapai tujuan pembelajaran lebih baik.

Seiring berjalannya waktu, inovasi-inovasi dalam pelaksanaan pembelajaran dengan pemanfaatan teknologi mampu mengubah tradisi pembelajaran tatap muka (konvensional) menjadi pembelajaran yang tidak mengharuskan untuk tatap muka antara guru dan siswa didalam satu ruang fisik kelas. Guru dan siswa tidak lagi dibatasi ruang dan waktu bahkan mereka sering kali terpisah dengan jarak yang jauh untuk pelaksanaan pembelajaran. Namun, mereka tetap dapat berkomunikasi dengan baik dengan pemanfaatan teknologi. Situasi pembelajaran seperti ini disebut pembelajaran jarak jauh (distance learning).

Pembelajaran jarak jauh, juga disebut pendidikan jarak jauh, e-learning, dan pembelajaran online, merupakan bentuk pendidikan di mana unsur-unsur utama termasuk terpisahnya guru dan siswa secara fisik selama pengajaran dan penggunaan berbagai teknologi untuk memfasilitasi komunikasi siswa-guru dan siswa-siswa (Berg, 2016). Pembelajaran jarak jauh mulanya berfokus pada siswa nonreguler, seperti pekerja penuh waktu, personel militer, dan perantau atau individu di daerah terpencil yang tidak dapat menghadiri pembelajaran kelas. Namun, pembelajaran jarak jauh telah menjadi bagian yang mapan dari dunia pendidikan, dengan tren yang menunjukkan pertumbuhan berkelanjutan. Di pendidikan tinggi A.S saja, lebih dari 5,6 juta mahasiswa terdaftar dalam setidaknya satu kursus atau kelas daring pada musim gugur 2009. Jumlah ini naik dari 1,6 juta pada tahun 2002.

Semakin banyak universitas menyediakan peluang pembelajaran jarak jauh. Pelopor dalam bidang ini adalah University of Phoenix, yang didirikan di Arizona pada tahun 1976 dan pada dekade pertama abad ke-21 telah menjadi sekolah swasta terbesar di dunia, dengan lebih dari 400.000 mahasiswa terdaftar. Itu adalah salah satu yang paling awal mengadopsi teknologi pembelajaran jarak jauh.

Siswa dan institusi menerima pembelajaran jarak jauh dengan alasan yang bagus. Universitas mendapat manfaat dengan menambah mahasiswa tanpa harus membangun ruang kelas secara fisik, dan siswa mendapat keuntungan karena dapat mengakses kelas di mana dan kapan mereka memilih.

Karakteristik pembelajaran jarak jauh

Berbagai istilah telah digunakan untuk menggambarkan fenomena pembelajaran jarak jauh. Sebenarnya, pembelajaran jarak jauh (aktivitas siswa) dan pengajaran jarak jauh (aktivitas guru) bersama-sama membentuk pendidikan jarak jauh. Variasi umum termasuk e-learning atau pembelajaran online, digunakan ketika Internet adalah media; pembelajaran virtual (Sadeghi, 2019).

Ada empat karakteristik membedakan pembelajaran jarak jauh dengan pembelajaran konvensional (Robert J. Blake, 2008). Pertama, pembelajaran jarak jauh secara definisi dilakukan melalui institusi; ini bukan belajar mandiri atau lingkungan belajar nonakademik. Lembaga-lembaga tersebut mungkin atau mungkin juga tidak menawarkan pengajaran berbasis kelas konvensional, tetapi mereka memenuhi syarat untuk akreditasi oleh lembaga yang sama dengan mereka yang menggunakan metode konvensional.

Kedua, pemisahan geografis melekat dalam pembelajaran jarak jauh, dan waktu juga dapat memisahkan siswa dan guru. Aksesibilitas dan kenyamanan adalah keuntungan penting dari model pendidikan ini. Program yang dirancang dengan baik juga dapat menjembatani perbedaan intelektual, budaya, dan sosial antara siswa.

Ketiga, telekomunikasi interaktif menghubungkan individu-individu dalam kelompok belajar dan guru. Paling sering, komunikasi elektronik, seperti e-mail, chat platform sosmed digunakan, tetapi bentuk komunikasi tradisional, seperti sistem pos, juga dapat berperan untuk pengumpulan tugas-tugas secara fisik. Apa pun medianya, interaksi sangat penting untuk pendidikan jarak jauh, seperti halnya untuk pendidikan apa pun. Koneksi peserta didik, guru, dan sumber daya pengajaran menjadi kurang tergantung pada kedekatan fisik karena sistem komunikasi menjadi lebih canggih dan tersedia secara luas; akibatnya, Internet, ponsel, dan e-mail berkontribusi terhadap pertumbuhan pembelajaran jarak jauh yang cepat.

Keempat, pendidikan jarak jauh, seperti halnya pendidikan apa pun, membentuk kelompok belajar, kadang-kadang disebut komunitas belajar, yang terdiri dari siswa, guru, dan sumber daya pengajaran seperti, buku, audio, video, dan tampilan grafik yang memungkinkan siswa untuk mengakses isi instruksi. Banyak platform yang memfasilitasi kelas-kelas virtual untuk pelaksanaan pembelajaran jarak jauh (distance learning) seperti: google class room, canvas, moodle, dls.

Kesimpulannya, tidak ada lagi alasan untuk tidak bisa mengakses pembelajaran dikarenakan jarak atau waktu yang tidak memungkinkan. Dengan berkembangnya teknologi yang bermanfaat pada semua lini kehidupan termasuk pelaksanaan pembelajaran dalam pendidikan, jarak dan waktu bukanlah penghalang. Terlebih pada situasi krisis karena adanya pandemi Covid 19 yang mengharuskan seluruh institusi pendidikan beralih dari sistem kelas konvensional menjadi pembelajaran jarak jauh (distance learning).

Referensi:

Abd. Abi Muh. Bin Yazid. (1998). Sunan Ibnu Majah. Kairo: Darul hadits

Berg, G. A. & M. S. (2016). Distance Learning. In Encyclopædia Britannica. Retrieved from https://www.britannica.com/topic/distance-learning.

Robert J. Blake. (2008). Brave New Digital Classroom Technology and Foreign Language Learning. Washington, D.C: Georgetown University Press.

Sadeghi, M. (2019). A Shift from Classroom to Distance Learning: Advantages and Limitations. International Journal of Research in English Education (IJREE), 4, 80–85.

 

*) Konsultan Bahasa dan Staf Pengembangan Bahasa Internasional CILAD UNISSULA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *