Bahasa, Cinta, dan Seni Memahami: Pelajaran dari Drama Korea

“Can This Love Be Translated?”

Salsabila Fathin Nuha | 13 Maret 2026

Sumber; https://share.google/F5XHkYNeBMIU5mpo6

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menganggap bahwa bahasa hanyalah susunan kata yang dapat dipahami melalui kamus, tata bahasa, atau terjemahan literal. Namun, ketika kita menyaksikan drama Korea Can This Love Be Translated?, sebuah pertanyaan sederhana “Bisakah cinta diterjemahkan?” justru membawa kita pada pemahaman yang jauh lebih dalam tentang bahasa sebagai cerminan budaya dan perasaan.

Can This Love Be Translated? adalah drama komedi romantis asal Korea Selatan yang tayang pertama kali pada 16 Januari 2026 di Netflix. Drama ini mengisahkan hubungan antara Joo Ho-jin, seorang penerjemah multibahasa, dan Cha Mu-hee, seorang aktris papan atas yang kepribadiannya unik dan emosional.

Bahasa: Alat, Budaya, dan Emosi

Dalam drama ini, Ho-jin digambarkan sebagai seorang interpreter yang menguasai banyak bahasa asing dan memiliki kemampuan linguistik luar biasa. Namun, meskipun ia mampu menghubungkan kata dari satu bahasa ke bahasa lain, ia justru kesulitan membaca perasaan dan ungkapan batin Mu-hee.

Suatu percakapan dalam drama ini terasa sangat kuat secara makna:

“Jumlah bahasa di dunia sama banyaknya dengan jumlah manusianya.”

Kalimat ini bukan hanya ungkapan puitis, tetapi merupakan refleksi bahwa setiap orang memiliki cara unik dalam mengekspresikan perasaan dan pikirannya. Bahkan ketika kata-kata sudah diterjemahkan dengan tepat, makna sebenarnya bisa saja hilang karena perbedaan budaya dan konteks emosional tokoh yang berbicara.

Dalam konteks ini, bahasa bukan lagi sekadar alat untuk mengubah kata, tetapi juga alat untuk menyampaikan konteks budaya, pengalaman hidup, dan emosi yang melekat dalam ucapan seseorang.

Antara Bahasa yang Diucapkan dan Hati yang Dirasakan

Fenomena bahasa dalam drama ini sangat mirip dengan syair klasik dari penyair Arab al-Akhtal:

إن الكلام لفي الفؤاد وإنما جعل اللسان على الفؤاد دليلا

“Apa yang keluar dari mulut seseorang sejatinya adalah cerminan dari isi hatinya. Lisan hanya menjadi perantara apa yang tersembunyi di dalam dada.”

Makna syair tersebut sangat relevan dengan inti cerita drama ini. Ho-jin dapat menerjemahkan kata-kata secara teknis, tetapi ia harus belajar membaca hati dan cara Mu-hee mengekspresikan emosi yang tak terucap. Ini menunjukkan bahwa terjemahan yang baik bukan hanya soal bahasa, tetapi juga tentang empati dan sensitivitas terhadap budaya serta perasaan lawan bicara.

Kesalahpahaman Sebagai Produk Perbedaan Bahasa dan Budaya

Drama ini juga menggambarkan bagaimana kesalahpahaman sering terjadi bukan karena kita tidak paham bahasa, tetapi karena kita tidak memahami konteks budaya dan perasaan di balik bahasa itu sendiri. Ho-jin yang rasional dan lugas sering kali merasa bingung menghadapi cara Mu-hee mengekspresikan diri yang lebih emosional dan kompleks.

Konflik semacam ini tidak hanya muncul di drama; dalam kenyataan, banyak pelajar bahasa yang meskipun sudah mahir tata Bahasa, tetap masih kesulitan memahami aspek budaya bahasa tersebut. Tanpa pemahaman budaya, mereka sering gagal menangkap makna tersirat dalam percakapan sehari-hari.

Pelajaran Seni Budaya dalam Pembelajaran Bahasa

Drama Can This Love Be Translated? memberikan beberapa pelajaran penting tentang hubungan antara bahasa dan budaya:

  1. Bahasa adalah cerminan budaya dan nilai sosial. Kosakata yang digunakan seseorang sering kali dipengaruhi cara berpikir, latar budaya, dan pengalaman hidupnya.
  2. Terjemahan literal belum tentu menangkap makna penuh. Kata-kata dapat diterjemahkan secara teknis, tetapi makna emosionalnya bisa hilang jika konteks budaya tidak dipahami.
  3. Komunikasi yang efektif membutuhkan empati. Mengerti bahasa orang lain berarti memahami apa yang tidak diucapkan  yakni perasaan, nada, dan konteks emosional.

Kesimpulan: Seni Memahami di Balik Bahasa

Drama Can This Love Be Translated? bukan hanya sebuah cerita cinta biasa, tetapi juga refleksi bagaimana bahasa dan budaya saling mempengaruhi komunikasi manusia. Penyampaian emosi, nilai budaya, serta pengalaman hidup bukan hanya bisa dipahami lewat kamus atau tata bahasa, tetapi perlu pemahaman konteks yang lebih luas.

Sebagaimana syair al-Akhtal ajarkan, kata yang keluar dari lisan adalah perantara hati. Untuk itu, belajar bahasa memerlukan seni memahami siapa yang berbicara, dari mana ia berasal, dan apa yang ingin ia sampaikan. Karena pada akhirnya, kasih sayang, kejujuran, dan empati dalam komunikasi adalah bentuk bahasa tertinggi yang tak selalu bisa diterjemahkan melalui kata-kata semata.

Mitra

Testimoni

Christian Jay Repoyo Student, Philipines

The program was fun because we were able to meet new peers from within and outside our country of origin. We learned a lot about Indonesia as a whole.

MOHAMMED MUSTAFA HUSSEIN AL-AMRANI Student, Yemen

My expectations were met. In terms of teaching, I can say that they are effective because I have learned a lot. The materials were very helpful and detailed.

Your World is Here

ALAMAT

Gedung Ibnu Sina lt. 1 Kampus UNISSULA
Jl. Raya Kaligawe Km. 04 Semarang, Jawa Tengah, 50112

LAYANAN LOKET

Senin - Kamis (09.00 - 14.00 WIB)

©2023. Center for International Language Development 2