Sumpit Cina, Jepang, dan Korea: Serupa Tapi Tak Sama

Winda Setiyaningsih | 04 Mei 2026

Sumber; https://share.google/F5XHkYNeBMIU5mpo6

Bagi masyarakat Cina, Jepang, dan Korea sumpit bukan sekedar alat makan. Sumpit bagi masyarakat di ketiga negara tersebut juga merupakan simbol budaya yang merepresentasikan keharmonisan, keseimbangan, dan sopan santun. Itu sebabnya menggunakan sumpit harus sesuai dengan etiket yang berlaku. Kesalahan kecil seperti saat meletakkan sumpit di mangkuk akan dianggap tidak sopan dan tidak berbudaya. 

Berasal dari Tiongkok

Penggunaan sumpit di Cina, Jepang, dan Korea memiliki akar budaya yang sama, yaitu Tiongkok. Ahli sejarah memperkirakan bahwa alat makan ini sudah ada bahkan sejak zaman Neolitik atau 5000 tahun sebelum Masehi. Hal ini didasarkan pada temuan 42 sumpit dengan panjang 9.2-18.5 cm dan diameter 0.3-0.9 cm di Longqiuzhang, sebuah situs arkeologi di Provinsi Jiangsu, China. 

Menurut sejarahnya, sumpit kayu ditemukan secara tidak sengaja pada masa Dinasti Xia (2011-1600 SM). Karena kekurangan peralatan makan saat sedang bersiap menghadapi banjir besar, Da Yu, pendiri dinasti, menggunakan patahan ranting sebagai alat makan. Cara makan tersebut kemudian menjadi populer di kalangan rakyat Dinasti Xia. 

Perbedaan Sumpit Cina, Jepang, dan Korea

Meskipun terlihat mirip, sumpit di Cina, Jepang, dan Korea memiliki bentuk dan ukuran berbeda. Bahan yang digunakan untuk membuat sumpit di ketiga negara tersebut juga berbeda. Di Cina, orang-orang lebih suka menggunakan sumpit dari kayu tanpa ukiran atau tulang.

Sumpit khas Cina sendiri biasanya berbentuk persegi panjang dengan ujung yang tumpul dan lebar. Ukurannya juga cenderung lebih panjang jika dibandingkan dengan sumpit dari Jepang dan Korea. Ukuran sumpit yang lebih panjang ini berkaitan erat dengan kebiasaan masyarakat Cina yang lebih suka makan bersama di meja makan yang lebar. Dengan menggunakan sumpit berukuran panjang, mereka akan bisa menjangkau makanan di meja besar dengan lebih mudah.

Sementara itu, sumpit yang digunakan masyarakat Jepang cenderung memiliki bentuk lebih variatif yang disesuaikan dengan kegunaannya. Tidak hanya itu, material yang digunakan untuk membuat sumpit juga cukup bervariasi dengan warna yang lebih beragam. Selain sumpit plastik dan kayu, mereka juga menggunakan sumpit dari logam, gading, dan tulang. Berbeda dengan sumpit Cina yang tumpul, ujung sumpit Jepang cenderung bulat. Ukuran sumpit yang digunakan juga lebih pendek. 

Jika sumpit Cina dan Jepang sering kali terbuat dari bahan alami, orang Korea lebih menyukai sumpit yang terbuat dari stainless steel. Dibandingkan dengan sumpit perak yang dapat memicu terbentuknya bahan kimia berbahaya jika bercampur dengan makanan, sumpit stainless steel dipilih karena lebih aman. Karena sifat permukaan stainless steel yang cenderung licin, masyarakat Korea membuat ujung sumpit mereka sedikit kasar agar makanan tidak mudah jatuh. 

Beda Etiket Beda Makna

Selain bentuk, ukuran, dan bahan pembuatan, ada banyak perbedaan dalam penggunaan sumpit di Cina, Jepang, dan Korea. Berikut hal-hal tabu yang harus dihindari ketika makan menggunakan sumpit di ketiga negara tersebut.

1. Etiket Menggunakan Sumpit di Cina

Di Cina, orang dilarang membuat bunyi di mangkuk ketika sedang makan dengan sumpit. Hal ini dianggap tidak pantas karena di Cina hal itu dianggap menyerupai tingkah laku pengemis yang biasanya membuat bunyi dengan mangkuk dan sumpit untuk menarik perhatian. 

Selain itu, orang Cina juga tidak diperbolehkan secara sembarangan menyilangkan sumpit di atas meja. Menumpuk sumpit hingga membentuk tanda silang di meja dilarang karena seolah-olah kita sedang menyalahkan orang yang duduk di seberang meja kita.

2. Etiket Menggunakan Sumpit di Jepang

Masyarakat Jepang menganggap tabu memindahkan makanan dari satu sumpit ke sumpit lain. Disebut dengan watashi-bashi, hal ini dilarang karena menyerupai ritual kremasi pada upacara pemakaman. Menurut tradisi masyarakat Jepang, tulang-tulang mendiang harus dipindahkan menggunakan sumpit dalam ritual tersebut. Selain tidak sopan, perbuatan tersebut juga dikhawatirkan menyebabkan kesialan.

Menusuk makanan dengan menggunakan sumpit hingga posisi sumpit berdiri tegak seperti hio persembahan juga dilarang di Jepang. Hal ini karena kedua posisi sumpit tersebut biasa ditemukan pada saat upacara pemakaman.

Hal lain yang dilarang ketika menggunakan sumpit adalah menggosokkan sumpit bambu setelah dipisahkan. Perbuatan ini dianggap tabu karena menunjukkan bahwa sumpit itu harganya murah.

3. Etiket Menggunakan Sumpit di Korea

Etiket makan di Korea harus mendahulukan orang yang lebih tua, termasuk ketika mengambil sumpit. Mengambil sumpit atau makanan mendahului orang yang lebih tua akan dianggap tidak sopan. Seperti halnya di Cina dan Jepang, masyarakat Korea juga menganggap tabu menancapkan sumpit pada makanan dalam posisi tegak. Selain itu, menggunakan sendok dan sumpit bersamaan dalam sekali suapan juga dianggap tidak sopan di Korea.

So, Ciladers! Perhatikan baik-baik cara kalian menggunakan sumpit saat makan bersama orang Cina, Jepang, dan Korea, ya!

SUMBER: 

https://nationalgeographic.grid.id/read/131633921/awal-kisah-kehadiran-sumpit-yang-kini-menjadi-ikon-kuliner-asia?page=all

https://food.detik.com/info-kuliner/d-4788189/serupa-tapi-tak-sama-ini-beda-sumpit-china-jepang-dan-korea

https://www.gramedia.com/best-seller/cara-memakai-sumpit/

https://www.tionghoa.info/10-tata-krama-etnis-tionghoa-dalam-menggunakan-sumpit/

https://www.reddoorz.com/id-id/blog/feature/cara-memakai-sumpit-yang-benar-ada-etika-khususnya-di-tiap-negara-lho

Mitra

Testimoni

Christian Jay Repoyo Student, Philipines

The program was fun because we were able to meet new peers from within and outside our country of origin. We learned a lot about Indonesia as a whole.

MOHAMMED MUSTAFA HUSSEIN AL-AMRANI Student, Yemen

My expectations were met. In terms of teaching, I can say that they are effective because I have learned a lot. The materials were very helpful and detailed.

Your World is Here

ALAMAT

Gedung Ibnu Sina lt. 1 Kampus UNISSULA
Jl. Raya Kaligawe Km. 04 Semarang, Jawa Tengah, 50112

LAYANAN LOKET

Senin - Kamis (09.00 - 14.00 WIB)

©2023. Center for International Language Development 2